Sudah rilis sejak tahun 2019, They Are Billions karya Numantian Games hadir sebagai angin segar sekaligus mimpi buruk bagi para pecinta genre Real-Time Strategy (RTS). Saya membelinya saat ada Steam Summer Sale yang membuat harganya semakin menarik.
Di saat industri RTS klasik mulai kehilangan panggung utama, game ini berani meleburkan elemen pembangunan kota dan tower defense dalam sebuah arena bertahan hidup pasca-apokaliptik bertema steampunk yang sangat adiktif. Hasilnya adalah sebuah pengalaman bermain yang sangat intens.
Cerita Terasa Minimalis
Latar cerita membawa kita ke masa depan pasca-apokaliptik. Bumi telah sepenuhnya lumpuh akibat infeksi patogen zombi, menyisakan hanya sebagian kecil umat manusia yang bertahan hidup di dalam Imperial City. Kota metropolis raksasa ini terlindungi dengan aman di dalam sebuah kawah besar yang sangat kokoh.
Pemain mengemban peran sebagai jenderal militer yang dikirim langsung oleh Kaisar Quintus Crane untuk memimpin kampanye ekspansi luar bertajuk The New Empire. Tugas kita adalah mendirikan koloni baru di sepanjang jalur kereta kuno guna merebut kembali wilayah bumi yang dikuasai oleh miliaran makhluk terinfeksi.
Meskipun premis dunianya sangat potensial, penyampaian narasinya memang sangat minimalis. Cerita hanya disajikan secara bertahap melalui lembaran koran usang, teks pengantar misi, serta video monolog dari Kaisar. Tanpa adanya dialog interaktif antar-karakter atau perkembangan plot yang dinamis, narasi dalam game ini berfungsi sebagai pelengkap untuk pembangun atmosfer permainan.
Bangun Markas Tanpa Jeda
Gameplay They Are Billions berfokus pada manajemen ruang dan efisiensi ekonomi yang sangat ketat. Kita memulai pertempuran dengan sebuah Command Center dan segelintir pasukan patroli awal. Langkah awal kolonisasi adalah mengelola delapan jenis sumber daya: emas, makanan, pekerja, kayu, batu, besi, minyak, dan energi. Pembangunan perumahan warga merupakan kunci untuk merekrut pekerja baru dan memungut pajak emas secara berkala.
Namun, pertambahan populasi secara otomatis akan meningkatkan konsumsi makanan, yang memaksa kita membangun pondok nelayan, pondok berburu, atau ladang pertanian. Semua infrastruktur baru wajib berada dalam jangkauan transmisi energi yang diperluas dengan Tesla Towers.
Tata ruang kota sangat krusial, pemukiman warga harus direncanakan secara padat mengelilingi bangunan pendukung seperti Market (pasar) untuk menghemat makanan serta Bank untuk mendongkrak pendapatan emas. Perencanaan yang buruk akan membuat wilayah koloni menjadi terlalu sempit dan sulit dipertahankan ketika invasi zombi tiba.
Sebagai game yang mengangkat elemen zombi, They Are Billions memasukan salah satu detail yang spesial, yaitu efek suara dan sistem infeksi domino. Setiap tindakan militer, terutama letusan senjata api, menghasilkan nilai kebisingan spesifik yang dapat menyebar secara dinamis.
Suara tembakan yang terus-menerus akan terakumulasi dan memancing perhatian zombi liar dari area yang sangat jauh. Hal ini menciptakan kontras taktis antara unit Ranger yang menyerang secara senyap menggunakan panah dengan unit Soldier atau artileri Thanatos yang bising.
Sistem infeksi domino adalah fitur yang paling ditakuti. Jika satu zombi saja berhasil menembus barikade dan merusak bangunan sipil, seluruh pekerja di dalam bangunan tersebut akan langsung terinfeksi dan berubah menjadi zombi baru dalam hitungan detik. Wabah ini menyebar secara cepat dari satu bangunan ke bangunan lainnya, menciptakan reaksi berantai yang mampu melenyapkan koloni raksasa dalam sekejap mata jika tidak segera ditangani.
Untuk menahan gelombang zombi, pemain dibekali pertahanan berlapis, mulai dari dinding ganda kayu hingga batu, pintu gerbang, serta berbagai menara otomatis. Menara Great Ballista sangat andal di awal permainan, sedangkan Shocking Towers dengan daya listrik masif menjadi andalan utama untuk menyapu ribuan zombi sekaligus pada fase pertengahan. Pada fase akhir, pertahanan umumnya mengandalkan menara Executor yang sangat mematikan namun membutuhkan biaya pemeliharaan yang mahal.