Setelah kesuksesan Black Ops 6 di tahun 2024 yang membawa kita kembali ke era Perang Teluk, Activision dan Treyarch mengambil langkah berani dan berisiko dengan sekuel langsung hanya setahun kemudian.
Call of Duty: Black Ops 7 hadir dengan beban ekspektasi yang berat: harus menjadi penerus naratif dari Black Ops 2 yang legendaris, sekaligus membenarkan siklus rilis tahunan yang kian dipertanyakan. Berhubung game ini juga sangat menekankan multiplayer, ulasan kali ini akan berfokus pada mode campaign.
Black Ops 7 membawa pemain melompat ke tahun 2035, sepuluh tahun pasca insiden Raul Menendez yang ikonik di Black Ops 2. Dunia digambarkan sedang berada di ambang kehancuran, dengan perang psikologis. Kita kembali mengendalikan David Mason, yang kini memimpin unit elit JSOC Specter One bersama rekan lamanya, Mike Harper, serta karakter baru seperti Leilani Tupuola.
Fokus cerita berpusat di Avalon, sebuah kota fiksi di Mediterania yang dikuasai oleh korporasi teknologi The Guild. Premisnya menarik: The Guild, yang dipimpin oleh antagonis Emma Kagan, menggunakan racun saraf halusinogen bernama The Cradle untuk memanipulasi persepsi publik dan menciptakan teror buatan—termasuk membangkitkan sosok Raul Menendez melalui teknologi deepfake canggih.
Meskipun narasi ini menjanjikan, eksekusinya terasa campur aduk. Mekanisme Mindscapes—level tempat pemain masuk ke dalam halusinasi karakter—memberikan variasi visual yang luar biasa, mulai dari visi surealis tentang masa lalu Frank Woods hingga koridor horor yang melanggar hukum fisika.
Namun, bagi penggemar veteran, ketergantungan plot pada elemen nostalgia (seperti kemunculan kembali Menendez) terkadang terasa seperti upaya putus asa untuk mengulang kejayaan masa lalu daripada membangun ancaman baru yang orisinal.